Beranda > Pengetahuan > Mati Karena Kerja Keras

Mati Karena Kerja Keras


Untuk mencapai sesuatu keinginan pasti kita akan kerja keras. Entah bagaimana pun caranya agar sesuatu yang kita inginkan itu bisa tercapai. Kemudian ada salah satu faktor yang sangat menentukan pencapaian itu, yaitu cara kerja.

Saya akan ambil salah satu contoh untuk mendeskripsikan dan menganalogikan suatu fenomena yang mungkin bisa menjadi pengetahuan untuk kita.

Kita bisa melihat salah satu negara yang kita pandang sangat maju dalam berbagai aspek kehidupan, yaitu negara Jepang.

Pencapaian Jepang dalam bidang ekonomi tentu sangat mengagumkan. Siapapun pasti tidak menduga, sebuah bangsa yang tidak berfisik besar dapat mengalahkan bangsa Barat yang dikenal lebih maju dan beradab.

Bagaimana sih sebenarnya cara kerja orang Jepang ?

Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom Sekutu (Amerika), perlahan namun pasti, Jepang berhasil bangkit. ntuk membangun kembali semangat bangsa Jepang terutama perekonomian, akyat Jepang mencari peluang kerja baru untuk menghasilkan produk yang bermutu. Caranya, mereka mendatangkan ahli dari Amerika Serikat dan diolah kambali oleh ahli Jepang agar sesuai dengan aspek budaya Jepang.

Langkah berikutnya, Jepang mengimpor buku dari barat, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Jepang. Seiring dengan dibangunnya institut penerjemahan, terjemahan buku-buku impor kedalam bahasa Jepang, sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. Kemudian, mengirim tim pengusaha Jepang ke Amerika dan belajar beragam disiplin ilmu. Setelah ilmu diserap, mereka meniru ciptaan Barat dan berusaha memperbaikinya sehingga menjad barang yang lebih baik, bermutu tinggi dan sesuai dengan kehidupan masyarakat Asia.

Harus diakui bahwa Bangsa Jepang memiliki keberanian, disiplin dan komitmen kerjanya sangat tinggi. Mereka berusaha bekerja sungguh-sungguh dan terus belajar mencari peluang baru. Tak heran jika rata-rata jam pegawai di Jepang adalah 2.450 jam/tahun. Dan itu sangat tinggi bila dibandingkan dengan Amerika (1.957 jam/tahun), Inggris (1.911 jam/tahun, Jerman (1.870 jam/tahun), serta Perancis (1.680/tahun). Akibatnya fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa : dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.

Untuk tata ruang kantor khas Jepang, mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama – tanpa sekat. Semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Semua sistem perkantoran berlandaskan kejujuran, kerja keras, inovasi, kreatif dan pantang menyerah. Dengan itu, mereka percaya akan cepat majumdan meningkat, sekaligus sangat efisien.

Contoh lain di supermarket. Bila seorang customer menanyakan sebuah barang, petugas supermarket tak sekedar menunjukkan dimana letak barang itu berada. Tapi langsung mengantar dan memastikan customer memegang barang yang dicarinya. Setelah itu, petugas kembali ke posisi semula. Hal itu tidak berarti jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar. Justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak seperti semut.

Selain kerja keras, loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa. Orang Jepang sangat jarang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh gradute, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan perusahaan.

Terakhir, budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasikan kerja bersifat individualistik. Kerja dalam kelompok menjadi salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada  anekdot menyatakan bahwa : “1 orang profesor Jepang akan kalah dengan 1 orang profesor Amerika, hanya 10 orang profesor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang profesor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan rin-gi adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam rin-gi.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah : ” BAGAIMANA DENGAN BANGSA INDONESIA ?


Related post :

1. Cara kerja bangsa Jepang.

2. 10 resep sukses bangsa Jepang.

  1. 12 Februari 2010 pukul 11:41 PM

    jawabannya Indonesia masih banyak perang sukunya ;p
    Nice post bro…
    mampir ke blog ane ya sob?

  2. 12 Februari 2010 pukul 11:43 PM

    Okelah kalo begitu.

    Ntar Q mampir dech.

    Salam sukses dan hangat selalu juragan.

  3. 13 Februari 2010 pukul 1:43 PM

    silakan mas kalo mo tuker link, saya pasang juga ya…

  4. 13 Februari 2010 pukul 5:59 PM

    wah, klo jepang mah udh megang prinsip pekerja keras pantang menyerah, lihat aja klo ada waktu luang diisi dengan baca buku, klo di indonesia gmn? kita bangsa indonesia harus mencontohi jepang baik mulai prinsip sampai pola pikir.. hehe..:mrgreen: mudah2an indonesiabisa lebih baik lagi bro..

  5. 13 Februari 2010 pukul 6:09 PM

    Bagus.
    Harus merubah prinsip n paradigma dulu.
    Kalo mau berubah tp pola pikir salah ya ga mungkin maju.
    Justru berantakan.

    Makasih bro kunjungannya.
    Tunggu kunjungan baliknya ya.

  6. Tanto
    26 Februari 2010 pukul 10:09 AM

    cara bekerja orang indonesia terkenal dengan BRIGADE 804 artinya masuk jam 8 pagi keluar jam 4 sore dengan hasil 0 (kosong), sry ya……ini kritik untuk membangun ko dan ter masuk saya juga……….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: